Rabu, 31 Oktober 2018

SISTEM MONETER INTERNASIONAL


PENDEKATAN MONETER TERHADAP
NERACA PEMBAYARAN
INTERNASIONAL
1.      Ide Dasar
Pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran diperkembangkan oleh: R. Mundell (1968) dan H.G. Johnson (1971, 1972). Ciri utama pendekatan ini adalah memandang neraca pembayaran internasional sebagai phenomena moneter. Neraca pembayaran internasional didefisinisikan sebagai perubahan daripada cadangan valuta asing suatu Negara, dan lebih mwngutamakan pada pos/rekening “below the line” yang merupakan rekening moneter/lalu lintas modal jangka pendek pemerintah. Dengan demikian, neraca pembayaran dipandang sebagai satu keseluruhan, bukan rekening demi rekening (ada rekening yang sedang berjalan/current account dan lalu lintas modal/capital account) seperti pada pendekatan Keynes.
Dasar utama pendekatan ini adalah anggapan adanya stabilitas dalam permintaan akan uang serta pemerintah tidak melakukan  sterilisasi. Tindakan sterilisasi artinya tindakan pemerintah untuk mengurangi/menghilangkan pengaruh neraca pembayaran terhadap jumlah uang yang beredar. Caranya, apabila terdapat surplus dalam neraca pembayaran, untuk mencegah pengaruh surplus ini terhadap jumlah uang yang beredar, maka pemerintah melakukan kebijaksanaan pengurangan jumlah uang yang beredar, misalkan dengan menjual surat-surat berharga. Dengan tindakan tersebut surplus neraca pembayaran tidak akan menyebabkan naiknya jumlah uang yang beredar. Pengaruh neraca pembayaran terhadap jumlah uang yang beredar hanya terjadi apabila sesuatu Negara memakai system kurs tetap, karena didalam system kurs berubah-ubah/bebas, neraca pembayaran yang surplus/ deficit akan berakibat kurs valuta asing turun/naik. Dengan dasar anggapan bahwa pemerintah tidak melakukan tindakan sterilisasi, maka surplus/deficit dalam neraca pembayaran sifatnya sementara. Artinya, surplus/deficit tersebut akan timbul, yang menyebabkan jumlah uang beredar bertambah/berkurang sampai kelebihan permintaan/penawaran uang hilang (pasar uang menjadi seimbang). Oleh karena itu, neraca pembayaran yang tidak seimbang merupakan refleksi dari ketidakseimbangan dalam pasar uang. Neraca pembayaran yang deficit merupakan refleksi dari adanya kelebihan jumlah uang beredar dan sebaliknya surplus sebagai refleksi kelebihan permintaan uang. Dalam jangka panjang, kesimbangan pasar uang (dengan demikian juga neraca pembayaran) akan terjadi secara otomatis. Tetapi apabila pemerintah melakukan tindakan sterilisasi (dus penyimpang dari anggapan pendekatan moneter),  maka surplus/ deficit neraca pembayaran akan terjadi terus menerus.
Disamping kedua anggapan tersebut diatas (adanya permintaan akan uang yang stabil dan pemerintah tidak melakukan tindakan sterilisasi). Sejumlah penulis lain menambahkan beberapa anggapan: bahwa upah dan harga bebas berubah/ fleksibel sehingga output dalam jangka panjang akan selalu dalam keadaan full-employement. Konsekuensinya, proses penyeseuaian neraca pembayaran melalui perubahan pendapatan (pendekatan Keynes) tidak penting. Anggapan lain, yakni adanya substitusi sempurna antara barang konsumsi dan modal (termasuk surat-surat berharga). Sebagai konsekuensi anggapan lain harga/tingkat bunga di dalam negeri akan sama/pararel dengan luar negeri, sehingga hanya akan berlaku/terjadi satu harga saja (law of one price). Penganut/penganjur dua anggapan terakhir ini sering disebut “global monetarists”.
2.      Model Dasar
Model dasar yang dipergunakan oleh pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran adalah sebagai berikut:
Md       =          p.f (Y,i)                                                                        (1)
Ms        =           m (DC + R)                                                                  (2)
Md        =          Ms                                                                                (3)
∆R         =           p.f (Y,i) - ∆DC                                                     (4)

Md      =      Permintaan akan uang
p            =          Harga
Y           =          Pendapatan
i             =          Tingkat Bunga
Ms        =          Jumlah uang beredar
m           =          Multiplier uang
RM        =          Uang reserves
DC         =          Kredit domestik
R            =          Reserves valuta asing
Persamaan (1) adalah permintaan akan uang, persamaan (2) adalah definisi jumlah uang beredar, terdiri dari kredit domestik ditambah reserves valuta asing. Persamaan (3) adalah keseimbangan dalam pasar uang, dan terakhir persamaan (4) adalah definisi neraca pembayaran internasional, yang diperoleh/diturunkan dari persamaan (1), (2), dan (3). Dari persamaan (4) jelas terlihat bahwa perubahan reserves valuta asing (neraca pembayaran) timbul sebagai akibat kelebihan permintaan/penawaran uang. Apabila terdapat kelebihan jumlah uang beredar [(∆DC >  P.F (Y, i)] maka neraca pembayaran akan defisit (∆ R < 0), dan sebaliknya apabila terdapat kelebihan permintaan uang, neraca pembayaran akan surplus (∆R > 0). Kelebihan jumlah uang beredar akan mengakibatkan masyarakat membelanjakan kelebihan uang ini, misalnya untuk impor atau membeli surat-surat berharga luar negeri sehingga terjadi aliran modal keluar, yang menyebabkan neraca pembayaran difisit. Sebaliknya, kelebihan permintaan uang, apabila jumlah uang beredar tidak bertambah, maka kelebihan permintaan ini akan dipenuhi dari luar negeri yang berupa aliran modal masuk. Aliran modal masuk ini mungkin terdorong oleh naiknya tingkat bunga dalam negeri (sebagai akibat kenaikan permintaan uang) atau oleh kenaikan ekspor (adanya kenaikan permintaan uang berarti masyarakat menjual barang-barangnya untuk ditukarkan dengan uang). Aliran modal masuk akan memperbaiki neraca pembayaran/surplus.
3.      Implikasi Kebijakan
Implikasi kebijaksanaan yang dapat diambil dari pendekatan moneter ini: bahwa pengaruh/efektivitas suatu kebijaksanaan terhadap neraca pembayaran haruslah dinilai dengan dasar pengaruhnya terhadap keseimbangan pasar uang. Seperti misalnya, kebijakan devaluasi, akan cenderung menaikan harga, yang gilirannya akan menaikkan permintaan uang. Apabila kenaikan permintaan ini tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri maka akan terjadi aliran modal masuk dari luar negeri (surplus neraca pembayaran). Aliran modal ini akan terus berlangsung sampai kelebihan permintaan tersebut hilang (pasar uang seimbang). Oleh karena itu surplus neraca pembayaran sifatnya hanya sementara, selama masih terdapat adanya kelebihan permintaan uang. Demikian juga, kebijaksanaan tarif atau quota. Kedua kebijaksanaan tersebut akan menyebabkan harga-harga naik sehingga timbul kelebihan permintaan uang.
Akibatnya, terjadi aliran modal masuk (surplus neraca pembayaran). Surplus ini akan berlangsung terus hingga kelebihan permintaan uang itu hilang (pasar uang seimbang). Dengan demikian, hasil akhirnya baik pasar uang maupun neraca pembayaran seimbang kedua-duanya. Keseimbangan di dalam pasar uang akan menjamin kesimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Ide ini didasarkan pada hukum Walras, yakni apabila hanya ada dua pasar, pasar uang dan pasar barang misalnya, keseimbangan di dalam pasar uang berarti pula keseimbangan di dalam pasar barang. Di dalam menganalisa neraca pembayaran internasional, pendekatan moneter menggunakan hukum Walras ini sebagai dasar fikirannya.
4.      Ringkasan
Sebagai akhir pembahasan teori neraca pembayaran internasional, dibawah ini disajikan ringkasannya dalam bentuk tabel:
Tabel
Ringkasan Teori Neraca Pembayaran Internasional


No.
Teori
Sistem Kurs
Pokok-pokok proses penyesuaian/adjustment
1.
Aliran Emas (specie flow)
Tetep
Aliran emas – harga tetap
2.
Pendapatan-Pengeluaran (income-Expenditures)
Tetap
Pendapatam multipler – impor
3.
Elastisitas
Devaluasi
Harga relative ekspor – impor
4.
Absorpsi
Devaluasi
Perubahan pendapatan/output relative terhadap perubahan absorpsi
5.
Keseimbangan Internal-Eksternal
Tetap
Pengaruh pendapatan terhadap rekekning yang sedang berjalan dan tingkat bunga terhadap rekening modal
6.
Moneter
Tetap atau mengambang
Permintaan dan penawaran uang






















Daftar Pustaka

Nopirin. (1997). Ekonomi Internasional Edisi 3. Yogyakarta: BPFE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SISTEM MONETER INTERNASIONAL

SISTEM MONETER INTERNASIONAL Setiap perubahan kurs riil domestic suatu negara dengan sendirinya menimbulkan perubahan yang sebali...