PENDEKATAN
MONETER TERHADAP
NERACA
PEMBAYARAN
INTERNASIONAL
1. Ide Dasar
Pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran
diperkembangkan oleh: R. Mundell (1968) dan H.G. Johnson (1971, 1972). Ciri
utama pendekatan ini adalah memandang neraca pembayaran internasional sebagai
phenomena moneter. Neraca pembayaran internasional didefisinisikan sebagai
perubahan daripada cadangan valuta asing suatu Negara, dan lebih mwngutamakan
pada pos/rekening “below the line” yang merupakan rekening moneter/lalu lintas modal
jangka pendek pemerintah. Dengan demikian, neraca pembayaran dipandang sebagai
satu keseluruhan, bukan rekening demi rekening (ada rekening yang sedang
berjalan/current account dan lalu lintas modal/capital account) seperti pada
pendekatan Keynes.
Dasar utama pendekatan ini adalah anggapan adanya
stabilitas dalam permintaan akan uang serta pemerintah tidak melakukan sterilisasi. Tindakan sterilisasi artinya
tindakan pemerintah untuk mengurangi/menghilangkan pengaruh neraca pembayaran
terhadap jumlah uang yang beredar. Caranya, apabila terdapat surplus dalam
neraca pembayaran, untuk mencegah pengaruh surplus ini terhadap jumlah uang
yang beredar, maka pemerintah melakukan kebijaksanaan pengurangan jumlah uang
yang beredar, misalkan dengan menjual surat-surat berharga. Dengan
tindakan tersebut surplus neraca pembayaran tidak akan menyebabkan naiknya
jumlah uang yang beredar. Pengaruh neraca pembayaran terhadap jumlah uang yang
beredar hanya terjadi apabila sesuatu Negara memakai system kurs tetap, karena
didalam system kurs berubah-ubah/bebas, neraca pembayaran yang surplus/ deficit
akan berakibat kurs valuta asing turun/naik. Dengan dasar anggapan bahwa
pemerintah tidak melakukan tindakan sterilisasi, maka surplus/deficit dalam
neraca pembayaran sifatnya sementara. Artinya, surplus/deficit tersebut akan
timbul, yang menyebabkan jumlah uang beredar bertambah/berkurang sampai
kelebihan permintaan/penawaran uang hilang (pasar uang menjadi seimbang). Oleh
karena itu, neraca pembayaran yang tidak seimbang merupakan refleksi dari
ketidakseimbangan dalam pasar uang. Neraca pembayaran yang deficit merupakan
refleksi dari adanya kelebihan jumlah uang beredar dan sebaliknya surplus
sebagai refleksi kelebihan permintaan uang. Dalam jangka panjang, kesimbangan
pasar uang (dengan demikian juga neraca pembayaran) akan terjadi secara
otomatis. Tetapi apabila pemerintah melakukan tindakan sterilisasi (dus
penyimpang dari anggapan pendekatan moneter),
maka surplus/ deficit neraca pembayaran akan terjadi terus menerus.
Disamping
kedua anggapan tersebut diatas (adanya permintaan akan uang yang stabil dan
pemerintah tidak melakukan tindakan sterilisasi). Sejumlah penulis lain
menambahkan beberapa anggapan: bahwa upah dan harga bebas berubah/ fleksibel
sehingga output dalam jangka panjang akan selalu dalam keadaan
full-employement. Konsekuensinya, proses penyeseuaian neraca pembayaran melalui
perubahan pendapatan (pendekatan Keynes) tidak penting. Anggapan lain, yakni
adanya substitusi sempurna antara barang konsumsi dan modal (termasuk
surat-surat berharga). Sebagai konsekuensi anggapan lain harga/tingkat bunga di
dalam negeri akan sama/pararel dengan luar negeri, sehingga hanya akan
berlaku/terjadi satu harga saja (law of one price). Penganut/penganjur dua
anggapan terakhir ini sering disebut “global monetarists”.
2.
Model
Dasar
Model dasar
yang dipergunakan oleh pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran adalah
sebagai berikut:
Md = p.f (Y,i) (1)
Ms = m (DC + R) (2)
Md = Ms (3)
∆R = ∆
p.f
(Y,i) - ∆DC (4)
Md = Permintaan akan uang
p = Harga
Y = Pendapatan
i = Tingkat
Bunga
Ms = Jumlah uang
beredar
m =
Multiplier uang
RM = Uang
reserves
DC = Kredit
domestik
R = Reserves
valuta asing
Persamaan (1)
adalah permintaan akan uang, persamaan (2) adalah definisi jumlah uang beredar,
terdiri dari kredit domestik ditambah reserves valuta asing. Persamaan (3)
adalah keseimbangan dalam pasar uang, dan terakhir persamaan (4) adalah
definisi neraca pembayaran internasional, yang diperoleh/diturunkan dari
persamaan (1), (2), dan (3). Dari persamaan (4) jelas terlihat bahwa perubahan
reserves valuta asing (neraca pembayaran) timbul sebagai akibat kelebihan
permintaan/penawaran uang. Apabila terdapat kelebihan jumlah uang beredar [(∆DC
>
P.F
(Y, i)] maka neraca pembayaran akan defisit (∆ R < 0), dan sebaliknya
apabila terdapat kelebihan permintaan uang, neraca pembayaran akan surplus (∆R
> 0). Kelebihan jumlah uang beredar akan mengakibatkan masyarakat
membelanjakan kelebihan uang ini, misalnya untuk impor atau membeli surat-surat
berharga luar negeri sehingga terjadi aliran modal keluar, yang menyebabkan
neraca pembayaran difisit. Sebaliknya, kelebihan permintaan uang, apabila
jumlah uang beredar tidak bertambah, maka kelebihan permintaan ini akan
dipenuhi dari luar negeri yang berupa aliran modal masuk. Aliran modal masuk
ini mungkin terdorong oleh naiknya tingkat bunga dalam negeri (sebagai akibat
kenaikan permintaan uang) atau oleh kenaikan ekspor (adanya kenaikan permintaan
uang berarti masyarakat menjual barang-barangnya untuk ditukarkan dengan uang).
Aliran modal masuk akan memperbaiki neraca pembayaran/surplus.
3.
Implikasi
Kebijakan
Implikasi kebijaksanaan yang dapat diambil dari
pendekatan moneter ini: bahwa pengaruh/efektivitas suatu kebijaksanaan terhadap
neraca pembayaran haruslah dinilai dengan dasar pengaruhnya terhadap
keseimbangan pasar uang. Seperti misalnya, kebijakan devaluasi, akan cenderung
menaikan harga, yang gilirannya akan menaikkan permintaan uang. Apabila
kenaikan permintaan ini tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri maka akan
terjadi aliran modal masuk dari luar negeri (surplus neraca pembayaran). Aliran
modal ini akan terus berlangsung sampai kelebihan permintaan tersebut hilang
(pasar uang seimbang). Oleh karena itu surplus neraca pembayaran sifatnya hanya
sementara, selama masih terdapat adanya kelebihan permintaan uang. Demikian
juga, kebijaksanaan tarif atau quota. Kedua kebijaksanaan tersebut akan
menyebabkan harga-harga naik sehingga timbul kelebihan permintaan uang.
Akibatnya, terjadi aliran modal masuk (surplus
neraca pembayaran). Surplus ini akan berlangsung terus hingga kelebihan
permintaan uang itu hilang (pasar uang seimbang). Dengan demikian, hasil
akhirnya baik pasar uang maupun neraca pembayaran seimbang kedua-duanya.
Keseimbangan di dalam pasar uang akan menjamin kesimbangan dalam neraca
pembayaran internasional. Ide ini didasarkan pada hukum Walras, yakni apabila
hanya ada dua pasar, pasar uang dan pasar barang misalnya, keseimbangan di dalam pasar uang berarti pula
keseimbangan di dalam pasar barang. Di dalam menganalisa neraca pembayaran
internasional, pendekatan moneter menggunakan hukum Walras ini sebagai dasar
fikirannya.
4. Ringkasan
Sebagai akhir pembahasan teori neraca pembayaran
internasional, dibawah ini disajikan ringkasannya dalam bentuk tabel:
Tabel
Ringkasan Teori Neraca Pembayaran Internasional
No.
|
Teori
|
Sistem Kurs
|
Pokok-pokok proses penyesuaian/adjustment
|
1.
|
Aliran Emas (specie flow)
|
Tetep
|
Aliran emas – harga tetap
|
2.
|
Pendapatan-Pengeluaran (income-Expenditures)
|
Tetap
|
Pendapatam multipler – impor
|
3.
|
Elastisitas
|
Devaluasi
|
Harga relative ekspor – impor
|
4.
|
Absorpsi
|
Devaluasi
|
Perubahan pendapatan/output relative terhadap perubahan absorpsi
|
5.
|
Keseimbangan Internal-Eksternal
|
Tetap
|
Pengaruh pendapatan terhadap rekekning yang sedang berjalan dan tingkat bunga terhadap rekening modal
|
6.
|
Moneter
|
Tetap atau mengambang
|
Permintaan dan penawaran uang
|
Daftar Pustaka
Nopirin. (1997). Ekonomi Internasional Edisi 3. Yogyakarta: BPFE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar